PUISI

SUARA MALAM
Berawal dari suara malam di lain kota Kini mungkin sudah ratusan, bahkan ribuan kata Bermain keluar masuk di telingaku Dirimu tetap sebuah misteri untukku Bentuk tanpa rupa, hanya suara. Ya, hanya suara Lalu suara kudengar berbeda darimu Bukan rangkaian huruf atau kata Bukan bahasa atau logat kata Aku mengerti tumpukan maknanya Mungkin ku salah, Ku tak mengerti perasaanya Aku pemuja sepi dan sunyi Tapi sangat benci duka dan lara Ku menolak dan pergi menjauh pada tangisan “jangan ada tangisan”, kataku Tapi kini ku ingin mendengarnya Karena, aku belum mengerti perasaannya
MENUNGGU MELEDAK
Menatap ruang putih bersih, di sela penat hari ini Sayatan pena memberi luka dikertas Mengeluarkan darah hitam dan jejak sejarah Melepas isi kepala, membagi satu persatu Perih, sakit dan nyeri berkumpul di dada Teriakan besar terjadi di dalam dada Bergema dipantulkan sekat daging dan kulit Keras, semakin keras Kapan kiranya, aku meledak ? Terpecah, dan hancur menjadi ribuan Bahkan jutaan potongan yang berserakan
DESA HIJAU
Raung gergaji mesin Ditengah ruang desa hijau Mencabik tiap urat batang pepohonan Burung menangis, meratap pilu Angin mengendap-endap, lalu berlari Menyatukan lingkaran alam Suara-suara yang melingkari alam Berputar, putar, putar Hari itu di desa hijau
PERAWAN PEREMPUAN
Perawan suci, perempuan itu Wajah merunduk, lunglai tersangga tangan Bercerita dengan mata Berkata tanya, ribuan tanya Takdir, jawaban tanpa jeda Tanda terima untuk berkah titipan tuhan, dianggap manusia hina Cerca, serapah, sumpah sampah membuat gerah Muka merah, marah parah Sabar, tabah tak tergugah Kuasa telah terjadi Terima setulus hati Tetap suci, perawan suci, perempuan itu
DAKI DI UJUNG JARI
Daki di ujung jari Merangkul jutaan kuman dan bakteri Daki di ujung jari Hitam, kotor, bau, busuk sekali Daki di ujung jari Lembut, lengket, lembab Daki di ujung jari Menempel, menyempil di sudut kuku Daki di ujung jari Teman, sahabat, saudara tiap hari Daki di ujung jari Asin, asam, manis, pahit Daki di ujung jari Dari kulit yang tlah mati Daki di ujung jari Daki di ujung
TAMAN BUNGA
Melati, kau tak pernah bercerita kalau mawar menusukmu dengan duri-duri tajamnya Mawar, kau tak berkata bila melati menghalangi sinar mentari yang kau harapkan Melati, mawar, janganlah bertengkar Mengapa tidak merekah bersama ditaman bungaku? Melati, jangan menghalangi sinar mentari, berbagilah Mawar, jangan menyakiti dengan duri-duri tajammu Tamanku gersang, panas tak rindang Bila ku harus memilih Kupilih mencabut kau berdua, biar tamanku kosong dan mati Tidak, aku tak mau itu terjadi Kalau begitu, biar aku yang pergi.
KAKI
Hai petualang ! Kau pucat dan tak bergairah Berselimut kaus kaki tebal Terbaring diatas sandal empuk Ayolah ! Menendang batu di Sindoro Mengijak-injak Merbabu Berendam dikawah Sumbing Satu lingkaran bumi, pasti menyenangkan untuk ditelusuri Lama kita tidak bersuci Bermain air pancuran dimasjid Berdiri bersama, mengagungkan nama-Nya Lelah terkulai malas Angkatlah aku ke atas ranjang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TULIS DONG

Pengikut